Jakarta, RISE News — Sebuah video yang beredar di media sosial Facebook menggegerkan warganet. Dalam unggahan dari akun bernama “Kang Dedi Mulyadi”, tampak seorang pria yang mengaku sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjanjikan bantuan pelunasan utang dan modal usaha kepada masyarakat. Syaratnya: menyukai dan membagikan video tersebut di media sosial.
Video tersebut disertai cuplikan seorang perempuan yang mengibaskan uang pecahan seratus ribu rupiah, seolah memperkuat klaim bahwa bantuan tersebut benar-benar nyata. Narasi dalam unggahan tersebut berbunyi:
“Dengarkan baik-baik buat yanag belum pernah dapat….!!! Semoga hari ini giliran kalian yang mendapatkan rejeki dari KANG DEDI. Aminkan.”
Unggahan itu juga menyertakan tautan menuju WhatsApp dan permintaan kepada masyarakat untuk mencantumkan nomor pribadi agar “bantuan” segera diproses.
Dedi Mulyadi Dibuat Seolah Berbicara Langsung
Dalam video, tokoh yang menyerupai Dedi Mulyadi berkata:
“Dengar baik-baik, siapa di sini yang membutuhkan modal usaha atau untuk membayar utang? Saya akan membantu kalian sekarang asalkan anda menekan love dan panah. Ini nyata, tidak hoaks.”
Pernyataan ini mengundang respons dari sejumlah pengguna media sosial, banyak di antaranya mencantumkan nomor ponsel dan harapan mendapat bantuan dana.
Namun, benarkah sosok dalam video tersebut adalah Dedi Mulyadi?
Faktanya: Video Tersebut Hasil Rekayasa AI
Berdasarkan penelusuran tim ANTARA, tidak ditemukan pernyataan resmi dari Dedi Mulyadi maupun rekaman asli yang menyatakan dirinya akan memberi bantuan secara langsung melalui media sosial.
Menggunakan alat deteksi AI Hive Moderation, video tersebut dianalisis dan diketahui 99,9% merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) atau deepfake. Dengan teknologi ini, wajah dan suara seseorang dapat dipalsukan untuk membuat seolah-olah mereka mengucapkan hal tertentu.
Masyarakat Diminta Waspada
Praktik penipuan yang mengatasnamakan tokoh publik bukan hal baru. Pola umum dari modus ini adalah menjanjikan hadiah atau bantuan dengan iming-iming syarat yang ringan, seperti membagikan unggahan atau mengirim data pribadi, lalu dilanjutkan dengan permintaan transfer dana.
Pakar keamanan siber mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada unggahan yang mencatut nama pejabat, terlebih yang disebar melalui platform informal seperti WhatsApp atau akun tak terverifikasi.
“Selalu verifikasi informasi melalui kanal resmi, dan jangan pernah mencantumkan nomor pribadi di ruang publik tanpa perlindungan,” ujar pakar keamanan digital dari CISSReC, Pratama Persadha.
Dedi Mulyadi sendiri hingga saat ini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait video tersebut, namun masyarakat diminta tetap waspada dan tidak menyebarluaskan informasi menyesatkan.
Deepfake semakin canggih dan sering digunakan dalam tindak penipuan digital. Edukasi publik dan verifikasi informasi menjadi kunci utama menghadapi era manipulasi visual berbasis AI. Jangan tergiur janji manis dunia maya sebelum memastikan kebenarannya.














Leave a Reply