Jakarta, RISE News — Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat menyusul memburuknya indikator ekonomi Negeri Paman Sam. Inflasi yang tak sesuai target, pelemahan pertumbuhan lapangan kerja, dan penurunan daya beli konsumen mendorong para analis memperkirakan perubahan kebijakan moneter akan segera terjadi.
Namun, alih-alih melemah, Dolar AS justru terus menguat terhadap mata uang global, termasuk rupiah. Nilai tukar dolar terhadap rupiah sempat menembus Rp16.800 pekan ini, menyentuh level tertinggi dalam dua dekade terakhir.
Kondisi ini mengingatkan publik pada krisis ekonomi 1998, ketika dolar melonjak drastis dalam waktu singkat, memicu krisis politik yang menggulingkan Presiden Soeharto setelah 32 tahun berkuasa.
Kala itu, B.J. Habibie naik menjadi Presiden menggantikan Soeharto. Meski diragukan publik dan dianggap bagian dari rezim Orde Baru, Habibie justru mencatat prestasi dalam menstabilkan ekonomi dan menguatkan kembali rupiah. Ia menerapkan tiga langkah strategis:
- Restrukturisasi Perbankan:
Habibie menutup dan menggabungkan bank-bank lemah. Empat bank BUMN dilebur menjadi Bank Mandiri. Ia juga memisahkan Bank Indonesia dari pengaruh pemerintah melalui UU No.23 Tahun 1999, menjadikan BI sebagai bank sentral independen. - Kebijakan Moneter Ketat:
Melalui penerbitan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan suku bunga tinggi, kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan mulai pulih. Suku bunga sempat turun dari 60% ke belasan persen. - Stabilisasi Harga Pokok:
Habibie menjaga harga BBM dan listrik tetap stabil agar bahan pokok tetap terjangkau. Meski pernah menuai kritik karena menganjurkan puasa sebagai bentuk penghematan, kebijakan ini terbukti efektif meredam inflasi.
Kini, di 2025, The Fed menghadapi situasi yang tidak jauh berbeda. Dengan data ekonomi AS yang mengecewakan dan kemungkinan penurunan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan, investor justru tetap melirik dolar sebagai aset aman (safe haven).
Bagi Indonesia, penguatan dolar dapat memicu tekanan pada rupiah, meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri, serta mengerek harga impor.
Ekonom memperingatkan, meski tidak separah 1998, sentimen negatif pasar global bisa cepat menyebar, apalagi jika direspons dengan kebijakan domestik yang lemah dan inkonsisten.
Pengalaman masa lalu mengajarkan bahwa krisis bisa diatasi dengan kebijakan struktural dan kepemimpinan tegas. Seperti Habibie yang berhasil membawa rupiah dari Rp16.800 ke Rp6.550, Indonesia kini juga memerlukan strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian global.














Leave a Reply