Gaza, RISE News – Sedikitnya 146 warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza selama 24 jam terakhir, menurut laporan Otoritas Kesehatan Gaza. Serangan ini terjadi di tengah peningkatan militer Israel yang disebut sebagai bagian dari Operasi Gideon’s Wagons, yang bertujuan “mengalahkan Hamas dan merebut kembali sandera.”
Selain korban tewas, 459 orang lainnya dilaporkan terluka, dan masih banyak lainnya yang tertimbun reruntuhan bangunan akibat serangan bom yang intens. Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara, Marwan Al-Sultan, mengatakan situasi di fasilitas medis sangat buruk.
“Sejak tengah malam, kami telah menerima 58 jenazah, sementara banyak korban masih tertimbun reruntuhan. Rumah sakit penuh, suplai medis habis,” ujarnya, Sabtu (17/5).
Israel juga memerintahkan warga Gaza untuk mengungsi ke selatan menyusul serangan besar-besaran di wilayah utara, termasuk Beit Lahia dan kamp pengungsi Jabalia. Sementara itu, tank-tank Israel dilaporkan mulai bergerak ke arah Kota Khan Younis, memperkuat dugaan bahwa serangan darat lebih luas segera dimulai.
Menurut pejabat pertahanan Israel, eskalasi ini telah direncanakan sejak awal Mei, namun ditunda hingga kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Timur Tengah berakhir.
“Kami secara bertahap meningkatkan pasukan. Hamas masih tetap menantang,” ungkap pernyataan militer Israel.
Sementara konflik semakin dalam, PBB memperingatkan bahaya kelaparan massal di Gaza, menyusul pemblokiran total terhadap bantuan kemanusiaan oleh Israel sejak 76 hari lalu. Kepala Bantuan Kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, bahkan memperingatkan potensi terjadinya genosida, dan mendesak Dewan Keamanan untuk segera bertindak.
Trump, yang mengakhiri lawatannya pada Jumat (16/5), mengakui situasi kelaparan yang kian memburuk, namun belum berhasil mendorong kesepakatan gencatan senjata. Sebuah yayasan berbasis AS dikabarkan akan mulai mendistribusikan bantuan pada akhir Mei, namun PBB menolak bekerja sama karena yayasan itu dianggap tidak netral.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa Israel akan melancarkan operasi yang lebih luas dan intensif untuk merebut kontrol penuh atas Jalur Gaza, termasuk pengendalian distribusi bantuan.
Serangan balasan Israel ini merupakan lanjutan dari respons atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu, yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan menyebabkan 250 orang disandera. Namun, serangan Israel telah menyebabkan kehancuran besar: lebih dari 53.000 warga Palestina tewas, dan hampir semua dari 2 juta penduduk Gaza kehilangan tempat tinggal, menurut data dari otoritas kesehatan lokal.
NBC News melaporkan bahwa pemerintahan Trump tengah menyusun rencana untuk merelokasi hingga satu juta warga Palestina dari Gaza ke Libya secara permanen, namun rencana ini ditolak mentah-mentah oleh Hamas maupun otoritas Palestina pimpinan Mahmoud Abbas, yang menyebutnya sebagai pelanggaran hak asasi dan kolonisasi baru.














Leave a Reply