Jakarta, RISE News – Ketegangan global meningkat seiring dengan peringatan keras yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Rusia kepada Amerika Serikat (AS), agar tidak melakukan intervensi militer dalam konflik yang memanas antara Israel dan Iran.
Peringatan ini datang di tengah spekulasi bahwa Washington, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, tengah mempertimbangkan opsi untuk memihak Israel dalam konflik bersenjata yang telah menewaskan ratusan jiwa di kedua belah pihak.
“Kami secara khusus ingin memperingatkan Washington agar tidak melakukan intervensi militer dalam situasi ini,” ujar Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, seperti dilansir AFP, Kamis (19/6).
“Tindakan militer AS apa pun akan menjadi langkah yang sangat berbahaya dengan konsekuensi negatif yang benar-benar tidak terduga,” tegasnya.
Putin dan Xi Kutuk Serangan Israel
Pernyataan keras Moskow disampaikan setelah percakapan telepon antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tiongkok Xi Jinping, yang secara tegas mengutuk tindakan militer Israel terhadap Iran. Dalam pembicaraan tersebut, keduanya sepakat bahwa penyelesaian konflik harus dilakukan melalui jalur diplomatik, bukan kekuatan bersenjata.
“Penghentian permusuhan harus dicapai secara eksklusif melalui cara-cara politik dan diplomatik,” kata pejabat Kremlin, Yuri Ushakov, kepada media.
Media pemerintah Tiongkok, Xinhua, mengutip Presiden Xi yang mengatakan bahwa “gencatan senjata adalah prioritas utama” dan menyerukan Israel untuk menghentikan serangan militer guna menghindari eskalasi konflik yang lebih luas.
“Pihak-pihak yang berkonflik, terutama Israel, harus menghentikan permusuhan sesegera mungkin untuk mencegah siklus kekerasan dan mencegah perang regional,” ujarnya.
Trump Masih Ragu Ikut Campur
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Rabu (18/6) menyatakan bahwa ia belum membuat keputusan apakah akan bergabung dengan Israel dalam konflik ini.
“Saya mungkin akan melakukannya, saya mungkin juga tidak,” ucap Trump kepada wartawan di Washington.
Namun, komentar tersebut memicu kekhawatiran bahwa keterlibatan AS bisa memperluas konflik di kawasan Timur Tengah dan menyeret kekuatan besar dunia ke dalam konfrontasi terbuka.
Tawaran Mediasi Putin Ditolak Barat
Presiden Putin sebelumnya telah menawarkan diri sebagai mediator antara Israel dan Iran, dengan melakukan percakapan langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Kremlin menyatakan bahwa Presiden Xi mendukung tawaran tersebut, dengan keyakinan bahwa mediasi Rusia dapat membantu meredakan eskalasi konflik.
Namun, tawaran itu mendapat penolakan dari negara-negara Barat, termasuk Presiden Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
“Dia menawarkan untuk membantu mediasi, saya berkata: ‘tolonglah saya, mediasi urusanmu sendiri’,” sindir Trump kepada wartawan.
“Mari kita mediasi Rusia dulu, oke? Baru setelah itu kamu bisa pikirkan soal Iran dan Israel,” tambahnya.
Situasi ini menempatkan Rusia dan Tiongkok dalam posisi berseberangan dengan AS dan sekutu-sekutunya, menambah lapisan kompleks dalam geopolitik global yang sudah memanas akibat konflik Ukraina dan persaingan strategis di Indo-Pasifik.














Leave a Reply