Rencana Kenaikan Tarif Ojol Menuai Pro dan Kontra dari Masyarakat

Jakarta, RISE News – Pemerintah berencana menaikkan tarif ojek online (ojol) sebesar 8 hingga 15 persen. Kebijakan ini menuai beragam respons dari masyarakat. Sebagian penumpang mendukung demi meningkatkan kesejahteraan pengemudi, namun ada juga yang khawatir kenaikan tarif akan memberatkan pengeluaran sehari-hari.

Gitta De Vries (25), warga Jakarta Barat, menilai kebijakan ini dapat diterima dengan syarat pengemudi meningkatkan pelayanan. “Dengan adanya kenaikan tarif ini diharapkan driver bisa memberikan pelayanan yang lebih baik, tidak terburu-buru mengejar order, dan lebih mengutamakan keselamatan,” ujarnya, Senin (30/6/2025). Ia juga berharap kenaikan tarif berdampak langsung pada penghasilan pengemudi, bukan diambil perusahaan aplikator.

Sementara itu, Zahra (25), warga Cawang, Jakarta Timur, merasa dilema. “Semoga ada solusi adil biar driver juga tetap untung tapi pengguna juga enggak terlalu terbebani,” katanya.

Senada, Alifia (29), warga Bogor, mengaku keberatan. “Ongkos ojol sekarang aja udah lumayan boncos. Walau cuma naik Rp 1.000-2.000 pasti berasa ke uang bulanan,” ujarnya.

Sebelumnya, Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan, menyatakan kajian kenaikan tarif ojol sudah final dan akan dibahas bersama aplikator. Kenaikan akan dibedakan berdasarkan tiga zona wilayah dengan besaran 8 hingga 15 persen. “Pada prinsipnya kenaikan tarif ini sudah disetujui oleh aplikator,” pungkas Aan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *