Jakarta, RISE News — Paris Saint-Germain (PSG) mencatatkan sejarah emas di Allianz Arena, Minggu (1/6) dini hari WIB, dengan menumbangkan Inter Milan 5-0 di final Liga Champions 2024-2025. Kemenangan luar biasa ini bukan hanya mengantarkan PSG meraih gelar Liga Champions perdana, tetapi juga menulis ulang buku rekor turnamen paling bergengsi di Eropa.
Dipimpin oleh pelatih Luis Enrique, PSG menunjukkan dominasi sejak menit pertama. Formasi ofensif dengan lini serang cepat dan agresif membuat Inter Milan—yang dikenal solid sepanjang musim—kewalahan. Final yang diprediksi menjadi duel taktik ketat, justru berubah menjadi pertunjukan kekuatan generasi muda Les Parisiens.
PSG menurunkan starting eleven dengan rata-rata usia 25 tahun dan 96 hari—tercatat sebagai tim termuda yang pernah tampil di final Liga Champions pada abad ke-21. Sebaliknya, Inter Milan memecahkan rekor sebagai tim pertama yang menurunkan tiga pemain berusia di atas 35 tahun di laga final: Yann Sommer, Francesco Acerbi, dan Henrikh Mkhitaryan.
Perbedaan usia antara kedua tim sangat mencolok, mencapai 5 tahun dan 146 hari. Dan malam itu, energi muda terbukti tak terbendung.
PSG membuka keunggulan lewat Achraf Hakimi (12′), sebelum sang wonderkid Desire Doue mencetak dua gol di menit 20 dan 63. Khvicha Kvaratskhelia mencatatkan gol spektakuler dari luar kotak penalti pada menit ke-73, sementara Senny Mayulu menutup pesta gol pada menit ke-86.
Skor 5-0 tak hanya menjadi kekalahan terbesar dalam sejarah final Liga Champions bagi Inter Milan, tetapi juga menjadikan PSG sebagai tim pertama yang mencetak lima gol tanpa balas di final Liga Champions modern (1992-sekarang). Sebelumnya, kemenangan terbesar di partai final era Liga Champions adalah AC Milan 4-0 atas Barcelona pada musim 1993-1994.
Mengulang Sejarah Era Piala Eropa
Catatan kemenangan lima gol di final Eropa terakhir kali terjadi pada era lama, saat Benfica mengalahkan Real Madrid 5-3 pada 1962 dan Real Madrid menaklukkan Eintracht Frankfurt 7-3 pada 1960. Dengan hasil ini, PSG kini masuk ke dalam barisan elit pemenang Liga Champions, sekaligus menyuntikkan napas baru ke dalam sepak bola Eropa.
Kemenangan ini bukan sekadar trofi. Ini adalah deklarasi dimulainya era baru, di mana klub-klub dengan investasi pada talenta muda, taktik modern, dan permainan dinamis akan mendominasi. PSG—yang pernah gagal di final musim 2019-2020—kini kembali ke panggung utama dengan gaya dan superioritas mutlak.
“Ini bukan hanya tentang menang. Ini tentang menunjukkan siapa yang kami wakili dan bagaimana masa depan sepak bola terlihat,” ujar Luis Enrique dalam konferensi pers pasca-laga.
Final Liga Champions Terbesar Sepanjang Sejarah (1992–2025)
| Tahun | Final | Skor |
| 1994 | AC Milan vs Barcelona | 4-0 |
| 2004 | Porto vs Monaco | 3-0 |
| 2017 | Real Madrid vs Juventus | 4-1 |
| 2025 | PSG vs Inter Milan | 5-0 |














Leave a Reply