Jakarta, RISE News — Fisikawan peraih Nobel Fisika 2016, Duncan Haldane, mengungkapkan keheranannya karena belum pernah bertemu satu pun peneliti fisika asal Indonesia, meskipun telah berkeliling dunia selama hampir lima dekade dalam karier risetnya.
Dalam pertemuan Lindau Nobel Laureate Meeting di Jerman, sebuah ajang prestisius tempat ratusan ilmuwan muda berinteraksi langsung dengan para peraih Nobel, Haldane mempertanyakan minimnya kehadiran peneliti asal Indonesia. “Apakah karena fisikawan Indonesia kurang bergaul dengan komunitas internasional? Atau karena fisika memang tidak menarik di mata orang Indonesia?” tanyanya.
Di antara 638 ilmuwan muda dari berbagai negara, hanya dua peserta berasal dari Indonesia: Septia Kholimatussadiah yang meneliti nanomaterial untuk energi terbarukan di Taiwan, dan Angie Veronica, kandidat doktor astrofisika di Universitas Bonn. Keduanya menilai rendahnya minat pada fisika di Indonesia disebabkan oleh kesalahpahaman sejak dini—fisika dianggap rumit, menakutkan, dan tidak berguna.
“Orang Indonesia sering bertanya, ‘Untuk apa belajar astrofisika?’ karena dianggap tak punya aplikasi di dunia nyata,” ujar Angie. Septia menambahkan bahwa fisika justru sangat luas dan bisa meningkatkan kualitas hidup.
Haldane menyarankan Indonesia mengirim lebih banyak siswa untuk belajar fisika di luar negeri agar jaringan fisikawannya berkembang seperti Cina, India, atau bahkan Vietnam. Ia mencatat bahwa sebagian besar Nobel Fisika di Asia dimenangkan oleh negara-negara tersebut, bukan dari Asia Tenggara.
Sementara itu, menurut Profesor Sidik Permana dari ITB, peminat jurusan Fisika terus menurun, diperparah oleh pemotongan anggaran riset. “Fokus pendidikan kita cenderung ke arah terapan agar cepat kerja, padahal fisika punya spektrum luar biasa luas,” ujarnya.
Ia menyebut lulusan fisika banyak terserap di industri teknologi dan tambang, namun citra fisika yang “abstrak dan sulit” membuat minat publik lemah. Karena itu, ITB berupaya mendekatkan fisika ke masyarakat dan membuka peluang kolaborasi internasional, termasuk mengundang pemenang Nobel untuk mengajar dan memberi inspirasi.
Meski mengakui jalan menuju Nobel masih panjang bagi Indonesia, Sidik menyatakan pentingnya memulai dari langkah kecil. “Kalau mulai dari nol seperti SPBU, ya kita butuh waktu. Tapi kita tetap harus mulai,” pungkasnya.














Leave a Reply