Gus Ipul Berikan Arahan kepada Pendamping PKH: Agen Perubahan dalam Pengentasan Kemiskinan

Jakarta, RISE News – Dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang digelar secara daring hari ini, Wakil Ketua MPR RI, Abdul Saifullah Yusuf (Gus Ipul), memberikan arahan kepada 2.264 pendamping PKH. Gus Ipul menekankan peran penting pendamping sebagai garda terdepan dalam perubahan sosial dan pengentasan kemiskinan.

Gus Ipul menegaskan bahwa tugas para pendamping bukan hanya untuk melaksanakan distribusi bantuan sosial, tetapi juga untuk membangkitkan harapan dan mendorong kemandirian keluarga penerima manfaat (KPM). “Pendamping bukan hanya pelaksana teknis, saudara-saudara adalah agen perubahan di garda terdepan. Tugas utama pendamping adalah membangkitkan harapan dan mendorong kemandirian Keluarga Penerima Manfaat (KPM), bukan hanya membagikan bantuan,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulisnya.

Gus Ipul juga mengingatkan agar para pendamping tidak terjebak dalam kepentingan pribadi atau kelompok. “Kita bekerja untuk rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok,” tegasnya, mengajak pendamping untuk bersatu dalam semangat kerja untuk masyarakat luas.

Dalam kesempatan ini, Gus Ipul menekankan pentingnya integritas dalam menjalankan tugas sebagai pendamping PKH. Ia mengingatkan agar pendamping menjauhi praktek manipulasi data dan pungutan liar yang dapat merusak kepercayaan publik. “Jadilah panutan, karena wajah negara di mata rakyat miskin salah satunya adalah pendamping. Jangan terlibat dalam manipulasi data, pemotongan, atau pungutan liar,” jelasnya.

Gus Ipul juga mendorong pendamping untuk aktif dalam pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang menjadi pondasi utama kebijakan bantuan sosial di Indonesia.

Pada arahannya, Gus Ipul juga menyoroti program Sekolah Rakyat sebagai solusi jangka panjang untuk pengentasan kemiskinan. Ia mengingatkan para pendamping untuk memastikan bahwa siswa yang terdaftar berasal dari keluarga miskin ekstrem dan memastikan tidak ada anak-anak yang tercicir dari pendidikan. “Pastikan bahwa siswa berasal dari keluarga miskin ekstrem. Cek rumahnya, cari tahu kondisi keluarganya. Bantu fasilitasi pendaftaran, pantau kelayakan, dan pastikan tidak ada anak miskin yang tercecer dari pendidikan,” ujarnya.

Gus Ipul menegaskan bahwa keberhasilan pendampingan PKH tidak hanya diukur dari pembagian bantuan sosial, tetapi juga dari keberhasilan mencapai target graduasi. Setiap pendamping, lanjut Gus Ipul, wajib memiliki target graduasi minimal 10 KPM per tahun, yang berarti KPM tersebut harus mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial. “Graduasi berarti KPM sudah mandiri, tidak lagi tergantung bansos, dan naik kelas secara sosial dan ekonomi,” ungkap Gus Ipul.

Ia juga menjelaskan bahwa bantuan sosial bersifat sementara dan tujuannya adalah untuk mendorong kemandirian. “Bansos maksimal diberikan lima tahun bagi KPM aktif, kecuali penyandang disabilitas berat dan lansia tidak produktif. Kita harus arahkan KPM ke program pemberdayaan, seperti pelatihan dan akses modal,” tambahnya.

Gus Ipul juga menekankan pentingnya disiplin dalam pengisian aplikasi pelaporan dan verifikasi agar data yang masuk akurat dan tepat waktu. “Jangan ada data fiktif, jangan ada laporan kosong. Setiap perubahan harus dicatat dan dilaporkan,” katanya. Selain itu, ia mendorong sinergi lintas sektor dalam proses pendampingan KPM, termasuk melibatkan pemerintah desa, Puskesmas, sekolah, dan tokoh masyarakat, untuk mencapai target pemberdayaan.

Gus Ipul juga mengajak para pendamping untuk melek digital dan aktif di dunia maya. Ia mengatakan bahwa media sosial bukan hanya tempat untuk pamer gaya, tetapi juga sarana untuk menyuarakan perjuangan dan menunjukkan kinerja mereka dalam mendukung perubahan sosial. “Pendamping harus melek digital. Media sosial bukan cuma tempat pamer gaya, tapi tempat menyuarakan perjuangan. Tunjukkan kerja-kerja kalian, kisah KPM yang berhasil, dan semangat perubahan. Kita harus kuasai ruang digital dengan narasi positif,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Gus Ipul menegaskan bahwa kesuksesan program-program Kementerian Sosial sangat bergantung pada dedikasi dan semangat kerja para pendamping. “Pendamping adalah motor transisi dari perlindungan menuju pemberdayaan. Pendamping sejati adalah mereka yang malu saat memberikan bantuan kepada yang tidak berhak,” ucapnya.

Gus Ipul juga mengajak seluruh pendamping untuk senantiasa menjaga semangat, etos kerja, dan menjadikan tugas ini sebagai ladang ibadah sosial. “Satu pendamping, sepuluh perubahan nasib. Jika 34.000 pendamping mampu meluluskan 10 KPM, maka 340.000 keluarga akan berubah nasibnya setiap tahun,” pungkasnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *