Bekasi, RISE News – Mengajar bukan hanya sekedar profesi, tetapi juga panggilan jiwa, seperti yang dibuktikan oleh Endah Priyati, seorang guru sejarah di SMAN 12 Kota Bekasi. Dengan semangat dan dedikasi, Endah telah memperkenalkan cara baru dalam mengajarkan sejarah kepada generasi Z, yakni melalui media komik. Ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih menarik, tetapi juga efektif dalam membangun karakter siswa.
Endah mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam mengajar sejarah adalah cara menyampaikan materi yang kadang terasa berat dan membosankan bagi siswa, terutama dengan hanya mengandalkan buku teks tanpa gambar. Oleh karena itu, sejak tahun 2025, ia memutuskan untuk mengembangkan pembelajaran sejarah melalui komik, sebagai jembatan bagi siswa untuk lebih mudah menyerap materi.
“Sulit pada awalnya, karena anak-anak zaman sekarang lebih tertarik pada visual daripada teks. Jadi, saya memilih komik sebagai cara untuk menarik perhatian mereka dan membuat sejarah lebih hidup,” ujar Endah.
Keputusan ini ternyata berhasil. Dengan pendekatan kreatif tersebut, siswa di SMAN 12 Kota Bekasi menjadi lebih tertarik dan dapat memahami materi sejarah dengan cara yang menyenangkan dan relevan. Pembelajaran melalui komik memungkinkan siswa untuk merefleksikan perjuangan pahlawan masa lalu dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Salah satu siswa, Syarefaa Adrika, mengungkapkan pendapatnya tentang metode ini, “Ini benar-benar membuat kita paham tentang materi sejarahnya. Lebih seru dan gampang diingat.”
Endah tidak hanya mengajarkan sejarah dalam bentuk narasi, tetapi juga melibatkan siswa dalam pembuatan komik. Siswa diajak berdiskusi, menulis narasi, dan menggambarkan tokoh-tokoh sejarah, seperti Ki Hajar Dewantara, dalam bentuk visual yang menarik. Hal ini membuat siswa merasa lebih terlibat dalam proses belajar dan dapat lebih mudah memahami karakteristik serta perjuangan para pahlawan.
“Komik bukan hanya alat untuk mengajarkan sejarah, tetapi juga cara untuk membangun kemampuan siswa dalam bernalar, membaca kritis, dan memecahkan masalah,” tambah Endah.
Inovasi ini juga selaras dengan Kurikulum Merdeka yang mewajibkan guru untuk memberikan deep learning kepada siswa. Endah percaya bahwa dengan pendekatan kreatif seperti ini, tantangan dalam pendidikan dapat teratasi, sekaligus menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya sejarah dalam membentuk identitas bangsa.
Dengan komik sebagai alat pembelajaran, Endah Priyati membuktikan bahwa sejarah tidak hanya dapat dipelajari, tetapi juga dinikmati dan dihargai oleh generasi muda.














Leave a Reply