AS Resmi Serang 3 Fasilitas Nuklir Iran, Perang Bayangan Kini Jadi Konflik Terbuka

Jakarta, RISE News – Amerika Serikat (AS) resmi melancarkan serangan militer terhadap tiga fasilitas nuklir strategis Iran pada Sabtu (21/6/2025). Serangan ini menargetkan situs nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan, dengan menggunakan bom penghancur bunker (bunker buster) presisi tinggi.

Langkah ini menandai eskalasi serius dalam hubungan AS-Iran, mengakhiri dekade “perang bayangan” dan membuka babak baru konflik terbuka antara kedua negara.

“Operasi ini merupakan langkah preventif untuk menghentikan kemajuan nuklir Iran,” ujar juru bicara Pentagon, seraya menambahkan bahwa Washington masih membuka jalur diplomasi jika Teheran bersedia memilih perdamaian.

Iran Berjanji Akan Membalas

Menanggapi serangan tersebut, pemerintah Iran dengan tegas menyatakan bahwa mereka akan membalas dan tidak akan tinggal diam. Media pemerintah menyebutkan bahwa para komandan militer Iran telah diberi instruksi untuk “siaga penuh” dan mempersiapkan respons dalam waktu dekat.

Perjalanan Panjang Permusuhan: Dari Kudeta Hingga Konflik Proksi

Konflik Iran-AS bukanlah hal baru. Hubungan keduanya mulai memburuk sejak kudeta 1953 yang didukung CIA terhadap Perdana Menteri Iran, Mohammad Mossadeq. Kudeta itu mengembalikan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang pro-Barat, namun memicu kebencian mendalam di dalam negeri.

Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah menjadi titik balik, menjadikan Iran sebagai republik Islam yang anti-Barat. Krisis penyanderaan Kedubes AS di Teheran selama 444 hari memutus hubungan diplomatik kedua negara dan memulai era sanksi ekonomi ketat.

Selama puluhan tahun, AS dan Iran terus bentrok secara tidak langsung lewat perang proksi:

  • Iran mendukung Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman
  • AS mendukung koalisi Arab di Timur Tengah dan milisi oposisi Suriah
  • Di Irak, milisi Syiah pro-Iran menghadapi pasukan AS pasca invasi 2003

Konflik Langsung Sebelumnya: Operation Praying Mantis dan Soleimani

Sebelum 2025, satu-satunya bentrokan militer langsung antara kedua negara terjadi pada Operation Praying Mantis (1988), saat AS menyerang kapal dan instalasi minyak Iran sebagai balasan atas ranjau yang melukai kapal perangnya.

Ketegangan juga memuncak pada 2020, saat Qassem Soleimani, komandan pasukan elit Iran, dibunuh oleh drone AS di Baghdad. Iran membalas dengan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Irak.

Namun, serangan pada 21 Juni 2025 ini merupakan serangan terbuka langsung pertama terhadap situs nuklir Iran, menandai perubahan besar dalam pendekatan AS terhadap ancaman nuklir dan peran regional Iran.

Dari Sekutu Jadi Musuh Bebuyutan

Pada era 1950-an hingga 1979, Iran dan AS pernah menjadi sekutu dekat. AS bahkan membantu pembangunan militer dan program nuklir sipil Iran melalui Atoms for Peace. Namun revolusi 1979 mengubah segalanya. Sejak itu, hubungan kedua negara tidak pernah pulih dan terus berada di jalur konfrontasi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *