Jakarta, RISE News – Jumlah pengguna WhatsApp semakin melesat, meninggalkan pesaing terbesarnya, Telegram. Aplikasi pesan milik Meta ini kini tercatat mengantongi 3 miliar pengguna aktif bulanan, sebuah pencapaian yang mengukuhkan dominasi WhatsApp di pasar aplikasi pesan global.
Tidak hanya dari segi jumlah pengguna, WhatsApp juga menunjukkan perkembangan positif dalam segi pendapatan. Platform bisnis WhatsApp Business berperan penting dalam meraup sebagian besar pendapatan US$510 juta dari keluarga aplikasi Meta. Hal ini menunjukkan bahwa WhatsApp tidak hanya populer di kalangan pengguna biasa, tetapi juga di kalangan pelaku bisnis yang semakin memanfaatkan platform ini untuk berinteraksi dengan pelanggan.
WhatsApp dan Meta AI
Selain itu, WhatsApp juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan pengalaman penggunanya. Meta AI yang telah diterapkan di WhatsApp memungkinkan pengguna untuk berinteraksi lebih personal, baik dalam percakapan 1:1 maupun grup. CEO Meta, Mark Zuckerberg, menyebut WhatsApp sebagai salah satu platform dengan distribusi terbesar untuk layanan AI yang mereka kembangkan.
“Kami melihat orang-orang terlibat dengan Meta AI dari beberapa titik masuk berbeda. WhatsApp menjadi penggunaan Meta AI terkuat dalam keluarga aplikasi kami,” ujar Zuckerberg, sebagaimana dikutip dari Tech Crunch pada Jumat (2/5/2025).
Zuckerberg juga mengungkapkan harapannya agar Meta dapat menjadi pemimpin di pasar AS dalam hal teknologi AI. Meski demikian, dia menekankan bahwa WhatsApp tetap menjadi platform terdepan secara global, dengan adopsi AI yang lebih luas di seluruh dunia.
Telegram Capai 1 Miliar Pengguna Aktif
Sementara itu, Telegram juga mengalami lonjakan jumlah pengguna. Pada Maret 2025, Telegram berhasil mencapai 1 miliar pengguna aktif, sebuah pencapaian yang cukup signifikan mengingat pada Juli 2024, aplikasi ini masih memiliki 950 juta pengguna. Telegram menarik banyak perhatian karena posisinya yang lebih netral dan bebas dari intervensi pemerintah, serta keteguhannya untuk tetap independen meski mendapatkan tekanan dari sejumlah negara.
CEO Telegram, Pavel Durov, menyatakan bahwa meskipun WhatsApp terus berupaya meniru inovasi Telegram, aplikasi pesan ini tetap tumbuh dan meraup keuntungan. “Di atas kami ada WhatsApp, layanan murah yang meniru Telegram. Selama bertahun-tahun, WhatsApp berupaya mengikuti inovasi kami sambil membakar uang miliaran dolar AS untuk lobi dan kampanye PR demi memperlambat pertumbuhan kami,” kata Durov.
Menurut Durov, Telegram kini sudah meraup keuntungan dengan pencapaian profit sebesar US$547 juta pada tahun lalu. Selain itu, Telegram juga mencatatkan 10 juta pelanggan berbayar melalui layanan Telegram Premium.
Dominasi di Pasar Global
India tercatat sebagai negara dengan pengguna Telegram terbesar, dengan 45% dari total pengguna aktif Telegram berasal dari negara tersebut. Sementara itu, hanya 9% pengguna Telegram yang berasal dari AS. Meskipun demikian, Telegram terus memperluas jejaknya di pasar internasional, dengan semakin banyak pengguna yang mengandalkan aplikasi ini untuk berkomunikasi secara lebih privat dan bebas dari sensor.
Dengan WhatsApp yang terus memperluas jangkauan dan menggunakan AI untuk meningkatkan pengalaman pengguna, serta Telegram yang semakin dekat dengan dominasi pasar global, persaingan di antara dua raksasa aplikasi pesan ini diprediksi akan terus berlangsung sengit di masa mendatang.














Leave a Reply