Jakarta, RISE News – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Cina kembali memuncak setelah kedua negara gagal mencapai kesepakatan mengenai tarif perdagangan. Ketidakpastian yang muncul akibat friksi ini tak hanya mengancam stabilitas rantai pasok global, tetapi juga memaksa banyak negara untuk merevisi strategi ekspor-impor mereka. Namun, Indonesia memiliki peluang untuk memperluas ekspor dengan memanfaatkan situasi ini.
Ekonom dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengungkapkan bahwa Indonesia harus merespons ketegangan ini dengan cepat. Dengan dua raksasa ekonomi dunia saling memberlakukan tarif tinggi, banyak negara produsen dan pembeli global yang mulai mencari alternatif pasokan yang lebih efisien dan kompetitif. Ini membuka kesempatan bagi Indonesia untuk menawarkan produk-produk bernilai tambah yang memiliki kualitas tinggi dan sumber yang dapat diandalkan.
“Kita harus memanfaatkan situasi ini secara cerdas, baik dengan memperluas pasar ke negara-negara BRICS maupun D8 yang memiliki potensi besar. Indonesia sebagai ketua D8 saat ini berada dalam posisi yang sangat strategis,” ujar Syafruddin dalam keterangannya, Rabu (30/4/2025).
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Rizal Taufikurahman, juga menekankan bahwa pergeseran rantai pasok global ini dapat membuka ruang bagi Indonesia untuk diversifikasi pasar ekspor, terutama dalam produk-produk manufaktur, komoditas pertanian, dan bahan mentah. Negara-negara mitra dagang akan mencari alternatif sumber barang yang lebih kompetitif, dan Indonesia bisa menjadi pemasok pengganti bagi barang-barang yang sebelumnya diimpor dari Cina atau AS.
Tak hanya itu, Rizal menambahkan bahwa ketegangan geopolitik dan meningkatnya beban tarif memicu relokasi industri dari Cina ke Asia Tenggara, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan kapasitas produksi domestik Indonesia dan memperluas basis ekspor.
BRICS dan D8: Pasar Strategis untuk Ekspor Indonesia
Dalam menghadapi dinamika perdagangan global ini, Indonesia dapat memanfaatkan kelompok BRICS (Brazil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan) serta negara-negara anggota D8 (Bangladesh, Mesir, Iran, Nigeria, Pakistan, Turki, Malaysia, dan Indonesia) untuk memperluas pasar ekspornya.
“Sebagai ketua D8, Indonesia dapat memimpin inisiatif untuk memperluas akses pasar dan memfasilitasi perdagangan antarnegara anggota. Ini juga membuka potensi besar dalam kerja sama perdagangan dengan negara-negara anggota OKI,” kata Syafruddin.
Potensi ekspor Indonesia ke negara-negara BRICS cukup besar, mengingat kebutuhan yang terus berkembang di sektor energi, pangan, dan barang-barang manufaktur. Dengan lebih dari 50 negara anggota OKI, Indonesia juga dapat memperkuat posisi ekspornya di pasar yang lebih luas dan terus berkembang.
Namun, Rizal mengingatkan bahwa tantangan yang harus dihadapi Indonesia termasuk hambatan non-tarif, seperti regulasi teknis yang ketat dan sertifikasi lingkungan. Oleh karena itu, Indonesia perlu memastikan bahwa produk yang diekspor memiliki kualitas yang sesuai dengan standar internasional.
Dukungan untuk Ekspor Nasional
Indonesia Eximbank juga berperan aktif dalam mendukung pelaku ekspor melalui fasilitas keuangan dan layanan non-keuangan. Rini Satriani, Market Intelligence & Leads Management Chief Specialist Indonesia Eximbank, mengatakan bahwa diversifikasi pasar menjadi langkah strategis yang perlu ditempuh oleh eksportir Indonesia untuk memperluas akses ekspor.
“Dengan memperkuat hubungan dagang melalui skema kerja sama internasional, Indonesia dapat meningkatkan ekspor dan memperkuat posisinya di pasar global,” jelas Rini.
Sebagai hasil dari upaya tersebut, ekspor Indonesia pada periode Januari hingga Maret 2025 tumbuh sebesar 6,9 persen, didorong oleh komoditas utama seperti CPO, besi dan baja, serta produk mesin dan perlengkapan elektrik.
Peluang yang terbuka akibat ketegangan perdagangan global memberikan Indonesia kesempatan untuk memperkuat posisi di pasar internasional. Dengan strategi yang tepat, seperti diversifikasi pasar dan memperkuat sektor-sektor unggulan, Indonesia dapat memanfaatkan situasi ini untuk memperluas ekspor dan meraih pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.














Leave a Reply