Jokowi Tak Maju Caketum PSI, Kaesang: Tak Mungkin Bersaing dengan Ayah Sendiri

JAKARTA, RISE News — Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), dipastikan tidak mencalonkan diri sebagai Calon Ketua Umum (Caketum) Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Kepastian tersebut disampaikan langsung oleh putranya yang juga Ketua Umum PSI saat ini, Kaesang Pangarep, saat mendaftarkan diri kembali dalam bursa pencalonan Ketum PSI pada Sabtu (21/6).

Menurut Kaesang, kompetisi antara ayah dan anak dalam satu partai politik tidaklah etis. “Saya sudah berkomunikasi dengan beliau. Nggak mungkin juga anak dan bapak saling berkompetisi,” ujar Kaesang usai menyerahkan formulir pencalonan di Kantor DPP PSI, Jakarta Pusat.

Karpet Merah dari PSI Tak Diterima Jokowi

Sebelumnya, Sekretaris Steering Committee (SC) Kongres PSI, Benediktus Papa, menyatakan bahwa PSI memberikan “karpet merah” kepada Jokowi jika ingin mendaftar sebagai calon ketua umum. Menurutnya, Jokowi telah membersamai perjuangan PSI sejak awal.

“Pak Jokowi adalah sosok penting dalam perjalanan PSI. Namun siapa pun yang akan menjadi Ketum, tetap akan ditentukan oleh anggota partai melalui proses verifikasi dan pemilihan,” ujar Benediktus, Selasa (17/6), di Kantor DPP PSI.

Projo Dorong Jokowi Dirikan Partai Sendiri

Menanggapi keputusan Jokowi tidak maju di PSI, Relawan Projo justru mendorong mantan presiden dua periode itu untuk mendirikan partai baru sendiri. Wakil Ketua Umum Projo, Freddy Alex Damanik, menilai pendirian partai oleh Jokowi dapat menjadi wadah ideal untuk menyalurkan visi dan misinya secara penuh.

“Kalau kami ditanya, lebih baik Pak Jokowi bikin partai sendiri. Agar 100% visi-misinya terakomodasi dan menjadi legacy politik seperti para presiden sebelumnya,” kata Freddy kepada wartawan, Minggu (22/6).

Ia juga mengungkapkan bahwa diskusi soal pendirian partai telah dilakukan Jokowi bersama relawan. “Tinggal menunggu momentum yang tepat,” tambahnya.

Jokowi sebagai ‘Ketua Umum yang Berjalan’

Di sisi lain, Ketua Jokowi Mania, Immanuel Ebenezer (Noel), menyebut Jokowi tidak perlu memegang jabatan struktural partai karena sudah memiliki kekuatan politik sendiri.

“Pak Jokowi itu seperti partai berjalan. Tanpa jabatan pun, dia tetap magnet politik. Orang diam saja dihajar, itu artinya dia punya pengaruh besar,” ujar Noel, Minggu (22/6).

Menurutnya, hak politik Jokowi sepenuhnya dijamin undang-undang, apakah akan bergabung dengan partai lain, mendirikan partai, atau memilih jalur non-partisan.

PSI: Jokowisme Tetap Jadi Napas Politik Kami

Juru Bicara PSI, Cheryl Tanzil, menanggapi keputusan Jokowi dengan nada optimis. Menurutnya, sosok Jokowi tetap memiliki peran penting dalam gerakan politik PSI, terlepas dari struktur formal.

“Pak Jokowi bukan sekadar tokoh. Beliau adalah representasi dari semangat dan nilai-nilai yang kami perjuangkan di PSI,” ujar Cheryl.

Ia menyebut bahwa PSI telah lama mengusung gagasan “Jokowisme”, yaitu gaya kepemimpinan yang merakyat, bersih, dan progresif. “PSI tetap terbuka jika suatu saat Pak Jokowi ingin berkiprah lebih dalam,” tambahnya.

Masa Depan Politik Jokowi Masih Misterius

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Jokowi terkait langkah politiknya ke depan. Namun satu hal yang pasti, keputusan untuk tidak maju sebagai Ketum PSI membuka berbagai spekulasi: dari potensi mendirikan partai baru, bergabung ke partai lama, atau tetap sebagai figur independen yang disegani.

Apa pun jalurnya, nama Joko Widodo tetap menjadi poros penting dalam konstelasi politik nasional pasca lengser dari jabatannya sebagai presiden.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *