Dua Dekade PBSB: Dari Mimpi Santri Kuliah Sains hingga Transformasi Pendidikan Pesantren

Jakarta, RISE News — Dua puluh tahun lalu, tepatnya pada tahun 2005, sebuah gagasan besar lahir dari Ahmad Qadri Abdillah Azizy, Direktur Jenderal Kelembagaan Agama Islam (Ditjen Bagais) Kementerian Agama RI. Gagasan itu sederhana tapi revolusioner: memberikan akses kepada santri untuk mengenyam pendidikan tinggi dalam bidang sains dan teknologi.

Gagasan tersebut kemudian menjadi cikal bakal dari Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), yang kini telah memasuki dua dekade usianya. Awalnya menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, PBSB mengirimkan para santri dari seluruh Nusantara untuk belajar ilmu pertanian, peternakan, kesehatan masyarakat, hingga statistika—sesuatu yang dahulu dianggap mustahil bagi komunitas pesantren.

Kelahiran PBSB dilandasi tiga hal mendasar:

  1. Menebus “dosa sejarah” negara terhadap pesantren. Hal ini disampaikan Menteri Agama saat itu, KH. Maftuh Basyuni, yang menyebut bahwa negara belum membalas jasa besar pondok pesantren dalam perjuangan kemerdekaan. Melalui halaqah bersama civitas akademika UGM, PBSB pun mulai menembus kampus-kampus ternama.
  2. Menghapus ketertinggalan pesantren dalam sains dan teknologi. Para pendiri PBSB, seperti Dr. Imam Safe’i, Dr. Amin Haedari, dan Dr. Rohadi Abdul Fatah, menyadari pentingnya keterlibatan santri dalam ilmu pengetahuan modern sebagai syarat kemajuan peradaban.
  3. Mencetak sarjana santri yang profesional dan berkarakter. Melalui PBSB, santri tidak hanya dipersiapkan menjadi ahli di bidangnya, tetapi juga tetap berakar kuat pada nilai-nilai pesantren: moralitas, integritas, dan keteladanan.

Selama 20 tahun, PBSB telah mencetak ribuan sarjana dari berbagai kampus terkemuka seperti UGM, UI, ITB, IPB, ITS, UNAIR, hingga UIN di berbagai daerah. Para alumni PBSB kini tersebar di berbagai sektor, menjadi peneliti, dokter, akademisi, ASN, hingga tokoh masyarakat yang membawa nama baik pesantren.

Pada 2024, seiring lahirnya Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA), PBSB mengalami transformasi kelembagaan dan pendanaan. Dari yang awalnya dikelola oleh Direktorat Pdpontren dengan dana DIPA, kini PBSB masuk dalam skema Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), hasil kolaborasi LPDP dan Kemenag.

Transformasi ini menandai babak baru: sistem pembiayaan yang lebih mapan, pemetaan SDM yang lebih strategis, dan pengelolaan yang lebih profesional—tetap dalam kolaborasi erat dengan Direktorat Pdpontren.

PBSB adalah wujud nyata kehadiran negara di komunitas pesantren. Di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0, pesantren tetap menjadi jangkar nilai dan moral bangsa, dan kini bergerak maju menjemput masa depan melalui pendidikan tinggi.

Sebagaimana kata Nelson Mandela, “Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengannya Anda bisa mengubah dunia.” Santri kini tak hanya menghafal kitab kuning, tetapi juga rumus fisika dan teori statistika.

“Tugas generasi pendahulu sudah selesai. Kini, kita yang harus melanjutkan warisan besar ini,” ujar Ruchman Basori, Kepala PUSPENMA Kementerian Agama, dalam refleksi dua dekade PBSB.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *